Di sebuah desa yang damai, hiduplah seorang pemuda bernama Zain. Zain adalah seorang Muslim yang sangat peduli dengan segala aspek kehidupannya, terutama yang berkaitan dengan hukum Allah. Salah satu prinsip yang selalu dijunjung tinggi oleh Zain adalah konsumsi makanan halal dan sembelihan halal.
Suatu hari, Zain diundang oleh teman baiknya, Fahri, untuk makan di rumahnya. Fahri, meskipun seorang Muslim, terkadang kurang memperhatikan sumber makanan yang ia konsumsi. Hari itu, mereka duduk bersama untuk menikmati makan siang. Zain melihat makanan yang disajikan oleh Fahri dan mulai merasa khawatir. Ada beberapa jenis makanan yang diragukan kehalalannya—daging yang tidak jelas sumbernya dan bahan makanan yang tidak memiliki label halal.
Zain memutuskan untuk berbicara dengan lembut kepada Fahri. "Fahri, kamu tahu bahwa Allah memerintahkan kita untuk hanya mengonsumsi makanan yang halal, kan? Dalam Al-Qur'an, Allah berfirman, 'Hai orang-orang yang beriman, makanlah dari rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu' (QS. Al-Baqarah: 172). Makanan yang halal itu penting untuk kebersihan hati dan tubuh kita."
Fahri terdiam sejenak, merasa sedikit bersalah karena belum benar-benar memperhatikan hal itu. "Tapi, Zain, aku sudah cukup lama makan seperti ini. Apa sih sebenarnya perbedaan besar antara makanan halal dan tidak halal?"
Zain menjelaskan dengan sabar, "Makanan halal bukan hanya soal izin agama, tetapi juga tentang keberkahan. Ketika kita makan makanan halal, itu akan membawa keberkahan dalam hidup kita. Sebaliknya, makanan yang tidak halal bisa membawa mudarat bagi kita. Seperti halnya dalam sembelihan halal, ketika hewan disembelih sesuai dengan syariat, ia akan mengalirkan darah dengan benar, mengurangi rasa sakit pada hewan, dan memberikan daging yang lebih sehat. Itu semua sesuai dengan kehendak Allah."
Fahri mulai memahami. Ia bertanya lebih lanjut, "Apa yang harus kita lakukan untuk memastikan bahwa makanan yang kita makan benar-benar halal?"
Zain menjawab, "Kita perlu memastikan bahwa makanan kita berasal dari sumber yang jelas dan memiliki sertifikasi halal. Selain itu, jika kita membeli daging, pastikan itu disembelih oleh juru sembelih halal yang terlatih dan memahami cara penyembelihan sesuai syariat Islam. Juga, pastikan kita berdoa saat menyembelih hewan dengan menyebut nama Allah, 'Bismillah, Allahu Akbar'."
Setelah percakapan itu, Fahri memutuskan untuk lebih berhati-hati dalam memilih makanan. Ia mulai mencari informasi tentang produk-produk halal dan mengutamakan daging dari rumah potong hewan yang bersertifikat halal. Ia juga memastikan bahwa sembelihan halal dilakukan oleh orang yang berkompeten, sesuai dengan ajaran Islam.
Zain merasa senang melihat perubahan dalam diri Fahri. Mereka berdua kini lebih saling mengingatkan tentang pentingnya menjaga kehalalan makanan, tidak hanya untuk kesehatan fisik, tetapi juga untuk mendapatkan keberkahan hidup yang hakiki.
Cerita ini mengajarkan kita bahwa menjaga makanan halal dan sembelihan halal bukan hanya kewajiban agama, tetapi juga langkah penting untuk hidup yang lebih berkah dan sehat. Sebagai Muslim, kita harus memastikan bahwa segala yang kita konsumsi, baik itu makanan atau minuman, selalu sesuai dengan petunjuk yang diberikan Allah dan Rasul-Nya. Dengan begitu, kita tidak hanya menjaga kesehatan tubuh, tetapi juga hati dan jiwa kita agar tetap bersih dan dekat dengan Allah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar